Masayoshi Son merupakan seorang pengusaha dan investor
berasal dari Jepang yang dikenal sebagai pendiri dan CEO dari SoftBank Group Corporation. Dengan total kekayaan bersih mencapai US$20,9 miliar, Son telah menjadi salah satu individu terkaya di dunia. Artikel ini akan membahas perjalanan hidupnya, keberhasilannya di bidang teknologi, serta pengaruhnya pada industri global.
Masayoshi Son: Awal Perjalanan yang Memotivasi
Masayoshi Son lahir pada 11 Agustus 1957, di Tosu, Jepang. Sejak kecil, ia menunjukkan ketertarikan besar terhadap teknologi dan bisnis. Son melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat di University of California, Berkeley, di mana ia belajar tentang ekonomi dan komputer. Pengalaman belajarnya di AS memberinya perspektif internasional yang sangat berharga.
Pada tahun 1981, setelah menyelesaikan studinya, Son kembali ke Jepang dan mendirikan perusahaan pertamanya, Kyushu Telecommunication Network. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan teknologi dan inovasi, tetapi Son merasa bahwa potensi pasar Jepang sangat terbatas. Aspirasi untuk menjelajahi pasar global mendorong dia untuk mengembangkan visi yang lebih besar.
Pada tahun 1986, Masayoshi Son mendirikan SoftBank yang
awalnya merupakan distributor perangkat lunak komputer. Keberhasilan awal SoftBank dipicu oleh keputusan Son untuk berinvestasi dalam teknologi yang sedang berkembang, khususnya perangkat lunak dan semikonduktor. SoftBank berkembang pesat, dan pada akhir 1990-an, Son berhasil mentransformasi perusahaan ini menjadi raksasa teknologi melalui berbagai investasi besar di industri internet.
SoftBank: Mengantar Son ke Puncak Dunia Bisnis
SoftBank berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia berkat serangkaian keputusan investasi yang sangat sukses. Salah satu langkah paling cerdas yang diambil Son adalah investasi besar di Yahoo! pada tahun 1996. Son melihat potensi besar di Yahoo! , yang pada saat itu baru mulai berkembang. Investasi ini memberikan keuntungan luar biasa dan mengukuhkan posisi Son sebagai pemain kunci di dunia teknologi.
Namun, titik balik terbesar dalam karier Masayoshi Son muncul
pada tahun 2017 ketika ia meluncurkan Vision Fund, sebuah dana investasi yang berfokus pada teknologi masa depan, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan bioteknologi. Vision Fund berhasil mengumpulkan dana hingga lebih dari US$100 miliar, menjadikannya salah satu dana investasi terbesar di dunia. Dana ini berinvestasi dalam perusahaan-perusahaan besar seperti Uber, WeWork, dan ARM Holdings.
Dengan keberhasilan investasi yang diperoleh, SoftBank dan Masayoshi Son semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan dominan dalam dunia teknologi. Selain itu, Son juga terkenal karena keberaniannya dalam berinvestasi pada teknologi yang dianggap memiliki risiko tinggi, namun dengan potensi keuntungan yang sangat besar.
Menghadapi Tantangan: Masa Depan dan Perjalanan SoftBank
Meski Son telah meraih kesuksesan besar, perjalanannya tidak tanpa rintangan. Salah satu momen paling kritis dalam sejarah SoftBank terjadi pada WeWork, di mana perusahaan ini mengalami kegagalan besar setelah tidak mampu memenuhi ekspektasi pasar. Keputusan Son untuk berinvestasi secara signifikan di WeWork mendapatkan kritik tajam, namun ia tetap berkomitmen pada visi jangka panjangnya.
Namun, Masayoshi Son tidak mundur menghadapi tantangan.
Ia terus berinovasi dan mengalihkan fokus ke teknologi baru, sambil tetap mempertahankan tekad untuk menjadi pelopor dalam dunia teknologi dan investasi global. Meskipun menghadapi tantangan finansial, kekayaan bersihnya tetap stabil, dengan nilai yang diperkirakan mencapai US$20,9 miliar pada 2023.
Kehidupan Pribadi dan Filantropi Masayoshi Son
Masayoshi Son dikenal sebagai sosok yang sangat berfokus pada masa depan dan inovasi. Ia sering membahas tentang visi dunia yang lebih baik melalui teknologi, dengan kecerdasan buatan dan robotika yang dapat mengubah cara kita hidup dan bekerja. Son juga terkenal karena sumbangannya di bidang filantropi.
Pada tahun 2006, Masayoshi Son memberikan sumbangan lebih
dari US$100 juta untuk mendukung korban bencana alam di Jepang. Selain itu, ia juga telah berkomitmen untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk tujuan sosial dan amal melalui berbagai yayasan dan proyek filantropi.